Arsip

Archive for the ‘Dunia Islam’ Category

Sedikit Gambaran tentang korban Palestina..

3 Desember 2010 18 komentar

Zionisme adalah paham yang dibentuk dari paham hukum rimba/matrialis/darwinist. Tujuan Zionisme adalah untuk mendirikan negara yahudi. Dalam paham Zionisme di sisipkan pemikiran bahwa anak-anak keturunan Ibrahim/Abraham adalah anak yang di ciptakan oleh Tuhan untuk untuk menguasai dunia dan meraka merasa mereka adalah kaum yang disayangi oleh tuhan secara khusus.

Dalam Islam penghormatan dan perlakuan sederajat di berlakukan, tidak perduli bahwa dia yahudi, nasrani ataupun yang lain. Dan ini menjadikan mereka bukan lagi sebagai kaum yang istemewa atau di bedakan.

Perbedaan atau aliran-aliran dari Islam tiada lain atas rekayasa mereka semua (yahudi). Mereka bertujuan untuk melemahkan Islam dengan memecah belah Islam, sebagian dari kita sadar dan sebagian lagi masih tetap bebal. Sumua ini dilakukan tiada lain untuk mengalahkan umat Islam dengan mudah. Baca selanjutnya…

Iklan

Profesionalisme Dalam Dakwah

Profesionalisme Dalam Dakwah
Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA

dakwatuna.com – “Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah (argumentasi) yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (Yusuf: 108)
Kata kunci dari ayat ini seharusnya adalah kata “Bashirah” yang merupakan acuan profesionalitas dalam Islam. Semakin luas dan tajam bashirah seseorang, akan semakin profesional menggeluti bidang kerjanya. Apalagi konteks ayat ini jelas dalam konteks dakwah yang merupakan pekerjaan yang paling mulia. Dalam ayat ini Allah mendampingkan proses kewajiban dakwah dengan bashirah sebagai sebuah faridhah syar’iyyah yang dituntut oleh Islam. Justru kehidupan ini diciptakan oleh Allah diantaranya memang untuk menguji siapa yang benar-benar ihsan (baca: profesional) dalam beramal. “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya” (Al-Mulk: 2).
Ibnu Katsir mengidentifikasi bashirah sebagai sebuah keyakinan yang berlandaskan argumentasi syar’i dan aqli yang kokoh, serta tidak taklid buta. Menurut Syaukani, bashirah adalah pengetahuan yang mampu memilah yang hak dari yang bathil, yang benar dari yang salah dan begitu seterusnya. Inilah bangunan profesionalisme dalam dakwah yang tegaskan oleh ayat di atas; yaitu beramal dan berdakwah atas dasar ilmu, keyakinan, tiada keraguan apalagi persepsi yang tidak benar terhadap dakwah. Disinilah peri pentingnya sebuah pembinaan yang kontinu – meskipun – terhadap da’i, karena da’i lah justru inti dari sebuah proses dakwah. Bahkan dikatakan dalam sebuah pepatah “beramal tanpa ilmu lebih banyak merusaknya daripada memperbaiki”.
Agar rasa dan sikap profesionalitas tampil, maka segala aktifitas seseorang harus diawali dengan sebuah kesadaran “nawaitu” yang benar. Diawali dengan taubatan nasuha yang akan memperbaiki hubungan dengan Allah. Salah dan bergesernya niat akan turut mempengaruhi kinerja seseorang dan mengakibatkan kerja yang asal-asalan, tidak sempurna dan cenderung apa adanya. Sofyan Tsauri pernah mengungkapkan: “Tidak ada sesuatu yang lebih aku perhatikan selain dari niat”. Inilah rahasianya kenapa setiap amal dalam Islam harus didasari niat yang benar dan tulus karena Allah. Rasa takut akan pertanggung jawaban dakwah di hadapan Allah juga akan turut memperkuat keseriusan dan kejelasan dakwah seseorang. Inilah maksud firman Allah swt: “(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan”. (33: 39)
Dalam konteks ini, Dr. Ali Abdul Halim Mahmud menegaskan bahwa “Ahliyyatud Du’at” (baca: kualifikasi dan profesionalisme para da’i) merupakan persoalan besar dalam dakwah yang harus diperhatikan dengan baik dan tidak boleh diabaikan dalam keadaan apapun. Karena para da’i dari kalangan nabipun merupakan manusia pilihan Allah, “Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (Al-Hajj: 75). Selanjutnya Ibnu Qayyim merumuskan beberapa bangunan profesionalisme dakwah yang ternyata diawali dengan persoalan ilmu: Memiliki landasan ilmu atas apa yang ia sampaikan (Al-Ilmu Bima Yuballigh) yang diteruskan secara implementatif dengan sikap jujur dan benar terhadap apa yang ia sampaikan (Ash-Shidqu Fima Yuballigh) . Disinilah kedudukan ilmu sebagai pondasi dalam beramal. “Setiap orang yang beramal tanpa ilmu, maka amalnya tertolak, tidak diterima”.
Seorang yang profesional adalah seorang yang tekun, sabar dan tahan godaan, senantiasa dinamis dan mencari kreatifitas baru dalam berdakwah, karena memang ia tidak akan pernah setuju dan rela jika dakwah ini vakum, berjalan di tempat dan tidak mendapat tempat di hati umat. Contoh paling fenomenal adalah nabi Nuh as. Ditengah penolakan kaumnya, ia tetap mencari terobosan baru dalam berdakwah agar keberlangsungan dakwah bisa dipertahankan. Ia tetap komit dan tegar, bahkan mencari alternatif sarana dakwah yang beragam sesuai dengan kondisi dan tuntutan kaumnya: “Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran)…… Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam”. (Nuh: 5-9).
Disinilah profesionalitas kita akan terus diuji dengan beragam ujian sehingga akan lahir kaliber manusia yang diabadikan oleh Allah sebagai kelompok yang tetap tegar dan jujur dalam dakwah mereka, “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya)”. (Al-Ahzab: 23). Inilah prinsip yang senatiasa dipegang oleh para pendahulu dakwah, karena mereka yakin bahwa kecintaan Allah hAnya akan dianugerahkan kepada mereka yang beramal dengan tulus, cerdas, tuntas dan serius. Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah cinta jika hambaNya beramal dengan itqan”. Itqan dalam arti berbuat lebih banyak, lebih bermutu dan berkualitas dari umumnya orang mampu berbuat dan bekerja, seperti yang Allah gambarkan tentang kelompok manusia muhsin yang mampu beramal, lebih tinggi di atas rata-rata kebanyakan manusia sanggup beramal. “Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat dengan ihsan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar”. (Adz-Dzariyat: 16-18)
Ruang dakwah ke depan memang akan menuntut lebih profesionalisme kita dalam konteks “keilmuan” yang bisa dipertanggungjawabkan (bashirah) sehingga dakwah citra dakwah ini akan tetap baik seiring dengan permasalahan dan perkembangan dunia global yang lebih menantang. Mari ciptakan suasana ilmiyyah yang merupakan komponen dasar dari profesionalitas dalam dakwah kita. Allahu a’lam

Kategori:Dunia Islam Tag:

Pilar-Pilar Kesuksesan Dakwah

Pilar-Pilar Kesuksesan Dakwah
Oleh: Tim dakwatuna.com

dakwatuna.com – Alhamdulillah, perjalanan dakwah di Indonesia dalam batas-batas tertentu telah mengalami banyak kemajuan dan kesuksesan. Para da’i sudah banyak yang memasuki wilayah-wilayah strategis dalam berbagai lapangan kehidupan. Dan dakwah sekarang ini sudah memasuki mihwar muasasi, yaitu fase di mana dakwah mulai tampil dan mengembangkan aktivitasnya di berbagai macam lembaga, baik lembaga keagamaan, pendidikian, sosial, ekonomi maupun politik. Bahkan dengan eksisnya beberapa partai Islam di pentas nasional, dakwah telah memasuk mihwar dauli, fase mengelola negara.
Kesuksesan dan capaian-capaian dakwah jika diukur dengan realitas masyarakat, khususnya umat Islam, tentu masih jauh. Karena secara umum yang dominan sekarang masih kekufuran dan kemaksiatan. Peradaban masyarakat dunia masih dikuasai oleh negara-negara sekuler dan kufur seperti Amerika Serikat, Eropa, Jepang, Cina, Hindia dan Korea. Sedangkan kondisi internal umat Islam masih dihadapkan berbagai macam kendala dan tantangan, kendala kebodohan, kemiskinan, dan kelemahan di berbagai macam lapangan kehidupan.
Sehingga, ketika dakwah memasuki fase baru, bukan berarti permasalahan semakin berkurang, tetapi semakin bertambah. Dan pada saat yang sama, berarti dakwah telah memasuki fase yang berat, penuh tantangan dan risiko. Semua problematika dakwah, baik dalam skala individu, keluarga, masyarakat maupun negara harus menjadi konsens dan perhatian juru dakwah. Keberhasilan dan capaian-capaian hasil dari dakwah dari terbukannya dunia baik berupa harta maupun kedudukan harus dikapitalisasikan untuk meningkatkan peran dakwah dalam skala yang lebih luas lagi. Bukan malah menjadi fitnah dan bumerang yang membahayakan perjalanan dakwah dan sekaligus para dai.
Sejarah dan realitas merupakan bukti yang kuat untuk menyatakan bahwa para dai dapat bersabar dan tahan uji ketika menghadapi kesulitan dan kekurangan harta, namun banyak yang jatuh ketika menghadapi kemudahan, gemerlapnya harta dunia, megahnya kedudukan dan manisnya wanita. Sehingga untuk menjaga komitmen para dai terhadap dakwah dibutuhkan kematangan iman dan takwa (sisi ruhiyah) serta kematangan pemahaman dan ilmu (sisi fikriyah). Kemudian menjaga keseimbangan antara kedua sisi tersebut. Allah swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” (Ali Imran: 102)
Kematangan iman dan takwa hanya dapat diperoleh dengan menempuh proses-prosesnya. Sai’d Hawwa menjelaskan dalam kitabnya Al-Mustakhlash (Mensucikan Jiwa) yang merupakan syarh dari kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Gazali, menyebutkan ada 13 poin untuk menuju kematangan ruhiyah (iman dan takwa). Ke-13 poin itu harus dilaksanakan oleh para dai secara konsisten, yaitu sholat, zakat dan infak, puasa, haji, tilawah Al-Qur’an, dzikir, tafakkur, mengingat kematian dan pendek angan-angan, muraqabah, muhasabah, mujahadah dan mu’aqabah, amar ma’ruf nahi mungkar dan jihad, khidmah dan tawadhu, mengetahui pintu-pintu masuk syetan ke dalam jiwa dan menutup jalan-jalannya, dan mengenal penyakit-penyakit hati dan cara melepaskannya.
Sedangkan untuk meraih kematangan pemahaman dan ilmu tidak ada cara lain selain terus belajar dan belajar, membaca dan membaca sampai akhir hayatnya. Etos belajar harus terus ditingkatkan bagi setiap dai muslim sehingga dia mencapai karakteristik rabbani. “Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, hikmah, dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (Ali Imran: 79)
Sholat adalah pilar utama untuk meraih kematangan iman dan takwa. Maka hendaknya para dai senantiasa memperbaiki dan meningkatkan kualitas sholatnya. Kualitas sholat seseorang dapat dilihat dari 5 faktor yaitu khusu’, menjaga syarat, rukun dan kesempurnaan pelaksanaan, tepat waktu, berjamaah dan dilaksanakan di masjid (mushola). Begitu juga para dai tidak boleh melupakan sholat-sholat tambahan seperti qiyamul lail, rawatib, dhuha, dan lain-lain. Jika kewajiban sholat telah dilalaikan para dai, maka mereka lebih lalai lagi dalam melaksanakan kewajiban yang lain.
Komitmen dalam menegakkan sholat telah dicontohkan secara sempurna oleh Rasulullah saw. sahabat dan generasi salafu shalih dari umat ini. Hadits Rasulullah saw. menyebutkan: Dari Al-Aswad berkata, saya bertanya kepada ‘Aisyah r.a., “Apa yang dilakukan Rasulullah saw. ketika bersama keluarganya?” Aisyah r.a. menjawab, “Beliau saw. membantu kerjaan keluarganya tetapi jika datang waktu sholat maka bangkit untuk sholat.” (HR Bukhari). Umar bin Khattab r.a. akibat lalai melaksanakan sholat ‘asar berjamaah, maka ia menghukum dirinya sendiri dengan menginfakkan kebunnya yang membuat ia lalai. Begitulah karakteristik generasi terbaik dari umat Islam sebagaimana diceritakan langsung dalam Al-Qur’an.
Seterusnya mereka harus disiplin melaksanakan faktor-faktor lainnya. Zakat dan infak dapat menyembuhkan sifat kikir dan menumbuhkan kedermawanan, shaum sebagai sarana mengendalikan hawa nafsu dan penguat kemauan, haji menumbuhkan jiwa pengorbanan, tilawah Al Qur’an meningkatkan iman dan melembutkan hati, dzikir dan do’a mendekatkan diri kepada Allah, amar ma’ruf nahi mungkar dan jihad melatih keberanian, mengenal berbagai macam penyakit hati dan pintu-pintu syetan agar kita tidak jatuh pada maksiat dan kesesatan, tawadhu dan khidmah sebagai sarana penghilang kesombongan, muraqabah, muhasabah, mujahadah, dan mu’aqabah agar tidak tertipu dan lalai serta senantiasa bersungguh-sungguh dalam taat kepada Allah. Tafakkur untuk menajamkan pemikiran dan perasaan dan mengingat kematian supaya tidak cinta dunia dan segala tipuannya. Para dai juga harus waspada terhadap pintu-pintu masuk syetan dan bahaya penyakit hati.
Adapaun untuk mematangkan pemahaman dan ilmu, para dai harus senantiasa belajar dan membaca. Yusuf Qardhawi menyebutkan 6 macam ilmu dan tsaqafah yang harus dipelajari dan dikuasai oleh setiap dai, yaitu Ilmu-ilmu syariah, ilmu sejarah, ilmu bahasa, ilmu sosial, ilmu sain dan teknologi, dan ilmu-ilmu yang terkait dengan informasi dan berita atau masalah-masalah realitas.
Dakwah adalah suatu pekerjaan yang paling mulia, proyek besar dan warisan para nabi. Sehingga dibutuhkan persiapan dan bekal bagi para dai untuk naik ke puncak kemuliaan. Kerja keras yang dilakukan secara berjamaah dan amal jama’i serta penguasaan realitas kehidupan yang kuat. Sehingga ada tiga kunci untuk meraih kesuksesan dakwah baik dalam sekala individu maupun jamaah, dalam sekala lokal, nasional, regional maupun internasional. Tiga kata kunci itu adalah rabbaniyah, waqi’iyah dan jama’iyah.
1. Rabbaniyah Dakwah
Rabbaniyah adalah kata yang berlawanan dengan madiyah (materialisme) dan juga berlawanan dengan ruhbaniyah (kependetaan). Rabbaniyah berasal dari kata rabb (Allah yang Maha Pencipta dan Pemelihara). Artinya dakwah yang bersumber dari wahyu Allah (Al-Qur’an dan Sunnah) dan berorientasi pada Allah; Dakwah yang mengajak pada Islam dan untuk merealisasikan Islam. Ketika Rib’i bin Amir diutus kepada Rustum, penguasa Parsia, maka dia berkata, “Kami diutus Allah –bagi orang-orang yang mau– untuk membebaskan manusia dari penyembahan pada manusia menuju penyembahan pada Rabb manusia, dari kezhaliman agama-agama menuju keadilan Islam, dan dari sempitnya dunia menuju luasnya dunia dan akhirat.
Ungkapan Rib’i ini sangat jelas, jelas dari sisi visi dan misi dakwah. Dan dari ungkapan ini menjelaskan bahwa kesuksesan dakwah sangat terkait dengan rabbaniyah manhaj, rabbaniyah da’i dan rabbaniyah hadaf atau sasaran. Tetapi ketika dakwah menjauh dari nilai-nilai rabbaniyah, dan lebih berorientasi pada materi dan kebendaan, maka Allah tidak akan menolongnya, dan yang berlaku adalah logika matematis dimana semua akan diposisikan sama. Dan inilah yang ditakutkan oleh Umar bin Khattab ra. ketika kader dakwah bermaksiat kepada Allah, maka logika yang berlaku adalah logika matematis, dimana yang akan menang adalah mereka yang memiliki sarana, prasarana dan persenjataan yang lebih lengkap.
Rabbaniyah juga lawan dari Rahbaniyah (kependetaan), yaitu dalam berdakwah tidak berorientasi pada ketaatan pada Allah, tetapi ketaatan pad pendeta atau pemimpin dakwah. Sehingga akan memunculkan kultus pada pemimpin dan berujung pada ketaatan buta yang tidak dilandasi pada kebenaran. Ketaatan pada pemimpin baik benar atau salah. Dan kondisi ini akan memunculkan pemimpin yang diktator, sulit menerima nasehat, kurang aspiratif dan tidak menumbuhkan suasana syuro’. Allah swt. berfirman, “Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu mempelajarinya.” (Ali ‘Imran: 79)
Terkait dengan turunnya ayat di atas, Ibnu Abbas berkata, berkata Abu Rafi’ al-Quradhi, “Ketika Pendeta dan Rahib dari Nashrani dan Yahudi Najran berkumpul bersama Rasulullah saw. , maka Rasul saw. mengajak mereka masuk Islam.” Mereka berkata, “Wahai Muhammad, apakah engkau menginginkan kami menyembahmu sebagaimana Nashrani menyembah Isa?” Rasul menjawab, “Maha suci Allah, kami menyembah selain Allah, atau menyuruh menyembah selain Allah. Bukan untuk itu aku diutus dan diperintah”. Maka turunlah ayat tersebut.
Ayat ini berisi larangan penyembahan kepada para nabi dan rasul yang mendapat risalah kenabian. Dan jika larangan ini terkait dengan para nabi, maka larangan kepada selain nabi lebih utama. Berkata al-Hasan al-Bashri, “Tidak layak bagi orang beriman memerintahkan manusia menyembah para da’i dari orang beriman.” Berkata, “Karena dahulu suatu kaum satu sama lain saling menyembah, yaitu bahwa ahli kitab menyembah pendeta dan rahib mereka sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, “Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putra Maryam.” (At-Taubah: 31). Disebutkan dalam al-Musnad bahwa ‘Adi bin Hatim berkata, “Ya Rasulullah kami tidak menyembah mereka.” Rasul saw. bersabda, “Ya, sesungguhnya mereka menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal dan ahli kitab mengikutinya. Itulah ibadah ahli kitab kepada pendeta dan rahib.”
Ibnu Abbas berkata, “Jadilah Rabbani, yaitu pemimpin, ulama, dan orang yang santun.” Berkata al-Hasan, “Fuqaha, ahli ibadah dan ahli taqwa.” Berkata ad-Dahak, “Bagi orang yang belajar Al-Qur’an harus faqih yaitu mengetahui maknanya.” Jadi, para rabbani adalah orang yang senantiasa berinteraksi dengan Al-Qur’an, baik belajar maupun mengajar. Mereka menyuruh beribadah dan taat pada Allah, bukan taat pada dirinya. Dan kalaupun taat pada dirinya, dalam konteks taat pada Allah swt. Mereka senantiasa berorientasi pada nilai-nilai Islam bukan berorientasi pada materi dan keduniaan.
Rabbani atau rabbaniyah adalah karakterisitik atau sifat dari orang dan lainnya. Maka rabbaniyah harus melekat pada dakwah, manhaj (pedoman), masdar (sumber), hadaf (sasaran), dai, qiyadah, dan jamaah. Dan warna inilah yang harus dominan dalam gerakan dakwah, “Warna (celupan) Allah, siapakah yang paling baik warnanya melebihi warna Allah, dan kami beribadah kepada-Nya.” (Al-Baqarah: 138)
2. Waqi’iyah
Waqi’iyah yang dimaksud di sini ialah bahwa dakwah harus dapat berjalan dalam raelitas manusia dan tidak menjauh dari realitas manusia. Bahkan dakwah harus dapat menyelesaikan problematika yang dihadapi manusia. Sehingga para dai harus menguasai Fiqhul Waqi’i
Fiqih Waqi adalah ilmu yang membahas tentang pemahaman terhadap suatu kondisi kontemporer, seperti faktor-faktor yang berpengaruh pada masyarakat, kekuatan yang menguasai suatu negara, pemikiran-pemikiran yang ditujukan untuk menggoncang aqidah dan jalan-jalan yang disyariatkan untuk memelihara umat dan ketinggiannya baik pada saat sekarang maupun yang akan datang (Fiqhul Waqi, Dr. Nashir bin Sulaiman Al-Umr).
Jika salah satu fokus yang akan kita bahas itu pemuda dan mahasiswa, maka cakupannya di antaranya: pengetahuan tentang realitas mahasiswa secara keseluruhan dan mahasiswa muslim sekarang, faktor-faktor yang mempengaruhi mereka, kekuatan yang berpengaruh pada mereka, pemikiran-pemikiran yang berkembang di antara mereka dan yang merusak akidah mereka. Dan terakhir, bagaimana solusi untuk memperbaiki mereka dan merubahnya sesuai tuntunan Islam.
Realitas mahasiswa muslim di Indonesia tidak dapat dilepaskan dengan realitas umat Islam di Indonesia. Dan realitas umat Islam di Indonesia merupakan bagian dari realitas umat Islam secara keseluruhan. Oleh karenanya seluruh umat Islam, di dalamnya mahasiswa muslim harus mengetahui realitas itu semua kemudian ikut aktif menyelesaikan problem yang dihadapi dengan selalu mengacu skala prioritas.
Realitas umat Islam sekarang di seluruh dunia hampir memiliki kesamaan. Apalagi dengan semakin majunya teknologi informasi. Realitas itu dapat disimpulkan menjadi dua masalah besar. Pertama, jahlul umat ‘anil Islam (bodohnya umat Islam terhadap Islam). Kedua, saitharotul a’daa (umat Islam dikuasai musuh Islam). Dari realitas besar inilah semua umat Islam yang mengetahui dan sadar akan ajarannya harus memberikan saham dalam menyelesaikan problematika umat. Rasulullah saw. bersabda, dari Hudzaifah Bin Yaman r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang tidak memperhatikan urusan umat Islam, maka bukan golongan mereka.” (At-Tabrani)
Adapun realitas perjuangan umat Islam di seluruh dunia sangat terkait dengan perjuangan umat Islam di Palestina, Timur Tengah, Afghanistan, dan Irak. Nampaknya perubahan peta politik dunia akan sangat dipengaruhi dengan pertarungan gerakan Islam Palestina yang dipimpin Hamas melawan Yahudi Israel, kaum muslimin Afghanistan dan Irak melawan penjajahan Amerika, gerakan Islam di Timur Tengah menghadapi rezim pemerintahan masing-masing, dan gerakan Islam di Pakistan melawan kaum Hindu di India.
Sedangkan realitas Umat Islam di Indonesia tidak terlepas dengan dua masalah besar tersebut, yaitu bodohnya umat akan ajaran Islam dan orang-orang kafir dan musuh-musuh Islam yang menguasai umat Islam dan kekayaan negerinya. Dua sebab inilah yang menyebabkan semua sistem kehidupan di Indonesia menjadi rusak. Sistem politik sangat sekuler dan dikuasai politikus yang sekuler dan rusak. Ekonomi yang berkembang adalah ekonomi kapitalis yang bersandar pada sistem perbankan ribawi dan pasar bebas yang tidak melindungi kaum yang lemah. Kehidupan sosial sangat buruk jauh dari moral Islam. KKN masih mendominasi sistem kehidupan sosial dan birokrasi pemerintahan. Tingkat kerusakan sosial sangat parah. Narkoba, seks bebas, pornografi, dan bentuk kerusakan sosial selalu menghiasai kehidupan di masyarakat. Sistem pendidikan sangat rapuh dan tidak melahirkan manusia yang bertakwa.
Kondisi sosial politik negara Indonesia dan negara muslim lain dapat digambarkan sebagaimana hadits berikut: Segeralah menuju kematian, jika menemui 6 hal; pemimpin bodoh, banyak polisi, menjual hukum, meremehkan (menumpahkan) darah, memutus persaudaraan dan orang menjadikan Al-Qur’an seruling yang dinyanyikan dan menjadi rujukan walaupun paling minim pemahamannya.” (HR Ahmad)
Jika 6 kondisi tersebut dominan dalam suatu bangsa, maka Rasulullah saw. seolah menganjurkan untuk mati saja. Hadits ini adalah peringatan kepada unsur kebaikan dan reformis dalam suatu bangsa baik ulama, cendikiawan, pemuda dan mahasiswa untuk mencegah terjadinya kerusakan masal dengan melakukan dakwah, amar ma’ruf nahi mungkar dan perbaikan atau reformasi.
Berbicara tentang reformasi, maka mahasiswa adalah pilar yang senantiasa berada di garda terdepan, dan sejarah telah membuktikannya. Rezim Orde Lama dan Orde Baru jatuh karena tekanan mahasiswa. Walaupun mahasiswa dan mahasiswa muslim di Indonesia masih bagian dari produk keluarga-keluarga mereka dan produk dari masyarakat mereka serta produk dari bangsanya, dan mahasiswa tidak dapat dipisahkan dengan realitas sosial politik masyarakat dan bangsa Indonesia, namun dibanding dengan unsur bangsa lainnya, merekalah yang masih relatif bersih dan komitmen pada agenda reformasi. Oleh karena itu, mereka harus segera menyelesaikan problem internalnya, melakukan konsolidasi kemudian keluar melakukan reformasi secara menyeluruh. Utamanya reformasi terhadap kerusakan yang ada dalam tubuh pemerintahan dan sistemnya. Dan kunci kekuatan kaum pelajar dan mahasiswa adalah idealisme: kecerdasan, sikap kritis, dan kepekaan sosial; keberanian; dan pengorbanan.
Realitas umat Islam sekarang sangat terkait dengan periodisasi kekuasaan yang telah diprediksi oleh Rasulullah, dimana era sekarang adalah era kepemimpinan malikan jabariyan atau kepemimpinan orang-orang yang zhalim dan tidak menerapkan syariat Islam. Oleh karena itu aktivitas yang terpenting dalam era sekarang adalah berdakwah mengembalikan ajaran Islam dalam tataran kehidupan pribadi muslim, keluarga, masyarakat, dan negara.
Agar para dai dan aktivis muslim mengetahui kondisi riil secara nyata, maka mereka harus senantiasa berinterkasi dengan setiap peristiwa yang dihadapinya. Peristiwa dan kejadian setiap saat muncul dan berkembang, maka para dai tidak boleh lalai terhadap hal-hal yang terkait dengan kejadian yang berakibat pada kemajuan dan kemunduran umat dan berupaya menganlisa setiap peristiwa tersebut untuk kemudian berupaya mencari solusinya sesuai dengan fiqih syar’i. Maka fiqih syari’i tidak akan begitu efektif dan menyelesaikan masalah jika tidak menguasai waqi atau realita. Begitu realita yang dihadapi umat harus senantiasa diarahkan agar sesuai dengan fiqih Syar’i.
3. Jama’iyah
Jama’ah (lembaga/organisasi) adalah keniscayaan dalam dakwah dan kesuksesan dakwah. Dan amal jama’i harus menjadi bagian tak terpisah yang dilakukan para dai. Umar bin Khattab r.a. berkata, “Sesungguhnya tidak ada Islam kecuali dengan jama’ah, tidak ada jama’ah kecuali dengan imarah, tidak ada imarah kecuali dengan taat dan tidak ada taat kecuali dengan baiat.” Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Islam tanpa ditopang dengan sistem, maka akan dikalahkan oleh kebatilan yang ditopang dengan sistem.” Dan era sekarang adalah era jaringan dan jama’ah.
Amal Jama’i dapat dilakukan dalam dua dimensi. Pertama, amal jama’i antara sesama dai secara perorangan dalam satu gerakan dakwah. Kedua, amal jama’i yang dilakukan antara dua lembaga, dua yayasan, dan dua harakah dakwah atau lebih untuk kemaslahatan Islam dan umat Islam. Amal jama’i dalam bentuk yang pertama sudah biasa dilakukan, tetapi amal jama’i bentuk kedua masih sangat jarang dilakukan.
Jika antar partai dapat berkoalisi untuk tujuan pragmatis, kenapa antar gerakan Islam tidak dapat beramal jama’i untuk kemaslahatan umat dan bangsa. Dan sesungguhnya di sinilah rahasia kemenangan dakwah dan kunci mendapat rahmat dari Allah. “Kalau Rabbmu menghendaki, maka Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih. Kecuali yang dirahmati oleh Rabbmu.” (Hud: 118). Rasulullah saw. bersabda, “Allah tidak menyatukan umat ini pada kesesatan. Dan tangan Allah bersama jama’ah.” (Al-Hakim).
Proyek amal jama’i antar harakah itu sangat penting, karena sejatinya setiap harakah memiliki kelebihan masing-masing. Ada yang memiliki kelebihan dalam pendekatan kepada umat yang masih awam dan bergelimang dalam kemaksiatan. Mereka berhasil melakukan tabligh dan membuat banyak umat Islam yang insaf dan menegakkan shalat serta berakhlak mulia. Jama’ah ini sangat banyak dan tersebar keseluruh dunia. Mereka juga sangat bersemangat untuk mendakwahi non muslim di negara-negara barat.
Ada juga harakah lain yang memiliki kelebihan dalam penyebaran fikroh Islam khususnya masalah khilafah Islam. Pemikiran-pemikiran Islam berhasil mereka angkat untuk melawan pemikiran sekuler dan pemikiran barat. Dan karya-karya para pemikir gerakan ini layak untuk jadi kajian pemikiran Islam versus pemikiran sekuler. Sementara ada harakah lain yang memiliki kelebihan dalam ta’shil (menjaga keaslian) akidah dan syariah dari kemusyrikan dan bid’ah.
Amal jama’i itu semuanya terkait dengan rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya orang-orang beriman. “Dan Allahlah yang yang menyatukan hati-hati orang beriman. Jika engkau infakkan seluruh kekayaan yang ada di muka bumi, engkau tidak dapat menyatukan hati-hati orang beriman, tetapi Allahlah yang menyatukan hati-hati mereka. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa dan Bijaksana. Wahai Nabi, cukuplah bagimu Allah dan orang-orang yang mengikuti dari orang beriman.” (Al-Anfaal: 33-34). Dan puncak dari kesuksesan dakwah, ketika gerakan Islam berhasil menyatukan umat. Jadi, saat berinteraksi dengan siapapun seorang dai harus selalu ingat bahwa dirinya adalah unsur perekat umat. Bukan pelebar jurang perbedaan. Wallahu a’lam.

Kategori:Dunia Islam Tag:

Peran Pemuda dalam Gerakan Dakwah

26 Maret 2009 1 komentar

Peran Pemuda dalam Gerakan Dakwah
Oleh: Tim dakwatuna.com

Saya selalu merasa sangat bergembira kalau bertemu dan harus berbicara di hadapan para pemuda. Ini semua menandakan bahwa pemuda tetap bersemangat dan serius, karena setiap gerakan yang berhasil pasti memiliki kemauan yang kuat, harapan yang jauh ke depan, dan orientasi yang jelas serta terarah terutama di basis pemudanya.
Walaupun kadang-kadang gerakan pemuda kepentok masalah klasik kekurangan dana, misalnya. Hal itu biasa dan terjadi di mana-mana, di setiap waktu dan tempat, bukan hanya di Indonesia dan di masa sekarang saja. Meskipun tidak mempunyai materi berlimpah, semua pergerakan disusun, dirancang, dan dilaksanakan oleh pemuda. Pemuda aktivis boleh miskin materi, tetapi jiwanya kaya, sehingga pantang menyerah dan mengeluh. Mereka tidak mengorbankan iffah, kehormatan diri, hanya untuk meminta-minta, karena pemuda perintis dan pelopor pergerakan yang berhasil adalah mereka yang bermental baja.
Kekuatan moral dan spiritual menjadi modal utama dan pertama dalam setiap pergerakan. Mungkin saja landasan moral dan spiritual sebuah pergerakan salah atau bathil, tetapi pasti punya semangat. Apatah lagi kita yang mempunyai landasan moral dan spiritual yang benar, bersumber dari petunjuk Allah Ta’ala. Kekuatan moral dan spiritual yang benar akan menghasilkan azam dan iradah qawiyah. Bahkan, orang akan menjadi muda selamanya dan bergairah terus, jika bergerak atas landasan moral dan spiritual yang benar. Alhamdulillah, kita telah diberikan karunia itu oleh Yang Mahakuasa.
Modal kedua ialah kemampuan intelektual. Allah sangat merangsang manusia melalui ayat-ayat Al Qur’an yang menyatakan: ‘afala ta’qilun, ‘afala yatafakkarun, dan lain-lain. Menurut penelitian, otak manusia yang terpakai hanya 5% dari volume otak yang sebenarnya. Apalagi otak orang Indonesia yang mungkin tidak mencapai batas maksimal itu. Bayangkan, jika kemampuan otak itu ditambah dengan kekuatan pendidikan (tarbiyah) yang kita jalankan, bagaimana hasilnya. Menurut catatan, anggota gerakan 70% adalah para sarjana yang diberi petunjuk dan kemudahan oleh Allah untuk bergabung dalam jamaah dakwah, itu melebihi kualitas kelompok masyarakat pada umumnya.
Modal ketiga adalah ideologi atau idealisme yang dengannya kita mempunya visi dan misi perjuangan yang jelas. Ini juga merupakan karunia Allah kepada kita berupa pemikiran yang paripurna, bisa memiliki pandangan jauh ke depan, walaupun pada masa-masa sulit. Kita selalu menjadi barisan pelopor dan perintis dalam kejelasan ideologi.
Modal keempat adalah manhaj atau metodologi. Allah tidak hanya memberikan perintah saja, melainkan juga konsepsi dan landasan operasional. Shalat dan haji memang diperintahkan oleh Allah, tetapi dalam pelaksanaannya Allah mencontohkan melalui tindakan Rasulullah. Dalam berjuang dan berjihad pun harus mengikuti Rasul, tidak membeo, tapi memahami dan mengerti maksudnya. Qudwah kepada Rasul merupakan kebutuhan, bukan hanya sekadar kewajiban, karena tanpa Rasul, maka ajaran Islam tak bisa jalan. Rasulullah-lah yang mencontohkan kepada kita, bagaimana dakwah yang jelas, terarah dan sistemik.
Modal kelima adalah kefitrahan. Dinul Islam itulah modal besar, karena sesuai dengan fitrah manusia, tidak berbenturan dengan kultur manusia, binatang, dan ekosistem. Bahkan, Allah menegaskan bahwa semua makhluk itu adalah junud (tentara) Allah. Artinya, kita harus yakin bahwa pergerakan yang bertentangan dengan fitrah manusia adalah bertentangan dengan kehendak Allah, karena semuanya bergerak dalam nuansa dan irama yang sama. Semuanya bertasbih kepada Allah. Jika perjuangan Islam kompak dengan perjuangan alam (universe), maka perjuangan itu akan berhasil. Pohon dan tetumbuhan, binatang, cuaca, gejala alam semuanya menjadi teman-teman perjuangan kita.
Berjuang tanpa fitrah alam akan gagal, karena hukum itu bersifat baku dan tetap sepanjang zaman. Ini adalah modal yang sangat besar, walaupun kita tidak merasakannya. Padahal, bantuan Allah lewat alam (nature) itu sangat banyak. Misalnya, bekerja dalam hujan, tetapi tidak masuk angin, malah hujan itu menjadi penyegar. Bahkan, semuanya itu untuk mengokohkan, jika kita berstatus juga sebagai Jundullah. Caranya, sesuaikanlah sifat jundiyah kita dengan jundiyah angin, binatang, pohon, dan lain-lain.
Rasulullah sering dibantu oleh para jundi alam ini: tumbuhan, binatang, cuaca, dan sebagainya. Bahkan, karamah para sahabat dalam perang Qadisiyah, ketika mereka menyeberang sungai sambil berkata: “Wahai air, kita sama-sama jundullah, bantulah kami karena sedang melaksanakan tugas”. Akhirnya, air yang dalam dan deras itu menjadi dangkal dan tenang untuk dilewati.
Modal keenam adalah modal institusional. Kerja kita adalah kerja jama’ah yang banyak orang tidak melakukannya. Kita memperoleh banyak dukungan dari proses jama’i ini, seperti thawashau bil haq dan thawashau bis shobri. Itu hanya bisa dilakukan dengan jamaah, karena saling mengingatkan itu diperlukan dalam gerakan agar tidak tergelincir. Ba’duhum awliya’u ba’din. Kritik dan peringatan itu perlu.
Kita sedih menyaksikan ada pejabat tinggi pemerintah yang tidak mau dinasehati salah seorang ikhwah. Padahal kita hanya ingin menyelamatkan umat, bukan mengincar jabatan. Tetapi, pejabat tersebut setelah menduduki posisinya justru keenakan dan tidak mau direpoti oleh saran-saran yang berguna bagi umat.
Itu semua hanya bisa dilakukan dalam proses institusionalisasi, ketika tantangan dakwah berat dan sulit. Ada tawashau bil haq wa bis shobri, sehingga menimbulkan daya tahan (QS Ali Imran: 157). Wa ma dla’ufu wa ma istakanu (mereka tidak lemah dan tidak menyerah). Juga dilengkapi dengan tawashau bil marhamah. Tatkala seseorang mendapat musibah dan menderita, maka orang tersebut tidak sendirian, tetapi bersama-sama dengan banyak orang, sehingga potensinya tidak terpuruk.
Modal ketujuh bersifat material. Sebenarnya Allah telah banyak memberikan modal material kepada kita berupa alam semesta beserta segala isinya, tetapi mungkin kita belum bisa mendayagunakannya. Bahkan, dalam al Qur’an surat al Hajj ayat 31, Allah berfirman: “Telah Aku datangkan segala apa yang kamu butuhkan, wa in ta’uddu ni’matallah laa tuhsuha”. Karena kezaliman dan ketidakproporsionalan sikap kita, sehingga tidak memiliki daya inovatif dan kreatif untuk memanfaatkannya. Menyadari dan mensyukuri nikmat Allah itu penting. Bagaimana nikmatnya udara, sehari kurang lebih 350 kilogram kita memakai oksigen untuk tubuh kita, seperlima diantaranya dipakai oleh otak.
Kesadaran memiliki modal dasar itu penting demi iradah qawiyah dan azam yang tinggi. Kalau melihat perjalanan dakwah ke belakang pada tahun 1980-an, ketika Orde Baru berkuasa, bagaimana dakwah ini dikekang, diatur dan dikendalikan oleh pemerintah. Bahkan, dai yang menafsirkan surat Al Ikhlas sebagai ajaran tauhid saja sudah diberangus, sampai dikejar-kejar, sehingga akhirnya tema ceramah diubah menjadi syarat sahnya berwudlu. Justru di masa-masa sulitlah dakwah berkembang dan berekspansi, karena punya modal banyak.
Pada saat itu para muwajjih tidak dijemput dengan mobil, tetapi banyak yang berjalan kaki, karena keadaan ekonomi yang sulit. Cari tempat untuk acara pengajian atau daurah juga sulit. Halaqah dilakukan di kebun binatang, di taman, di lapangan, di kebun raya – tanpa whiteboard dan peralatan tulis memadai. Itu semua karena kita mempunyai kesadaran bahwa kita kaya, yang menyebabkan kita selalu menjadi barisan perintis dan pelopor kebaikan.
Strategi awal dakwah kita adalah harakah at taghyir yang membutuhkan anashir at taghyir. Karena kita membutuhkan banyak unsur perubahan, maka kita perlu mendapatkan akses dakwah pada pusat-pusat perubahan, yaitu markaz at taghyir. Dalam tahap awal, pusat perubahan yang kita akses adalah wilayah ilmiyah, yaitu kampus-kampus dan sekolah-sekolah. Setelah itu kita mengakses wilayah sya’biyah (masyarakat umum) melalui masjid-masjid dan pengajian umum.
Kampus dan sekolah itu pada dasarnya adalah milik umat. Sesudah itu, dakwah dalam amal thullabi dilanjutkan dengan amal mihani (dakwah profesi). Seyogyanya memang amal thullabi dan amal mihani itu disinergikan, karena mengarahkan kemampuan profesional harus dimulai sejak masa mahasiswa.
Amal mihani terdiri dari dakwah di kalangan perusahaan (tenaga kerja) dan pengembangan profesi. Harus disadari bahwa perusahaan-perusahaan umum itu tidak bisa atau sulit dijadikan lembaga perjuangan, sehingga hanya dipenuhi dengan karir, ma’isyah (pekerjaan), rekrutmen dan pengembangan kafa’ah saja. Yang masih lemah dari para aktivis adalah memasuki lembag-lembaga profesi.
Itulah yang bisa dijadikan lembaga perjuangan. Tetapi kenyataannya sekarang lembaga-lembaga profesi itu banyak yang lemah dari sisi perjuangan, hanya sekadar tempat kumpul-kumpul, bagi-bagi proyek, dan kadang-kadang peningkatan kafa’ah saja. Fenomena kelemahan lembaga profesi ini bukan hanya di Indonesia, tetapi terjadi di mana-mana.
Dakwah Islam memandang situasi itu sebagai sesuatu yang besar, bahkan keharusan perjuangan. Di Mesir, tahun 1960-1970 an, aktivitas kemahasiswaan berjaya dan mulai memasuki dakwah profesi. Lembaga-lembaga profesi yang tadinya lemah, maka sepuluh tahun kemudian menjadi kuat dan hampir 90% organisasi profesi dikuasai aktivis dakwah. Ikhwan dan akhwat yang masuk ke lembaga profesi harus kompetitif, jujur dan amanah. Aktivis Kristen Koptik di Mesir pun memilih dan mengakui kepemimpinan aktivis dakwah yang dinilai paling amanah dan memiliki etos perjuangan.
Semua proses tersebut berjalan secara wajar dan terjadi pemberdayaan yang luar biasa terhadap lembaga profesi. Lembaga profesi teknik (persatuan insinyur) tidak hanya bekerja pada bidang teknik, tetapi juga membuat RUU dan advokasi keteknikan yang bernuansa Islam, karena aktivis dakwah mampu mewarnai lembaga tersebut. Akhirnya lembaga profesi itu bertindak seperti partai politik dan pressure groups terhadap pemerintah. Karena aktivis mewarnai dan menguasai banyak lembaga profesi, maka seakan-akan mereka memiliki banyak partai politik dan kelompok penekan yang mengontrol pemerintah dengan kebijakan dasar yang sama.
Pada tahun 1995, pemerintah Mesir menyadari hal itu, sehingga lembaga-lembaga profesi mau dibredel, tetapi sulit karena terkait dengan institusi negara, infrastruktur dan suprastruktur politik. Kalau dibubarkan sulit, karena bertentangan dengan UU dan bisa membentuk lembaga yang baru lagi. Kalau kantornya ditutup, pemerintah dituntut lewat pengadilan. Aktivis bisa membuka kantor yang baru, atau menguasai dan mewarnai lembaga profesi sejenis. Kalau aktivisnya ditangkapi dan dipenjarakan, industri dan pelayanan jasa (terutama rumah sakit, konsultan proyek, dan pengacara) akan mengeluh, karena tidak bisa berjalan, sebab tidak ada tenaga ahlinya. Maka, proses pembangunan pun bisa terhambat.
Kelompok Salsabil di Mesir, misalnya, membuat perusahaan komputer dan berkembang sampai bisa mengikuti tender penyediaan software di Departemen Pertahanan Mesir, karena murah dan paling baik, akhirnya menang. Setelah pejabat militer sadar bahwa perusahaan tersebut milik aktivis dakwah, maka mereka ketakutan dan menggerebek serta menyegel kantornya. Peristiwa itu menjadi berita besar, karena secara beramai-ramai lembaga profesi di Mesir bersuara, mulai dari lembaga profesi teknik, komputer, pengacara dan lainnya, hingga akhirnya dibebaskan dan dibuka kembali.
Para dokter di Mesir juga menggelar acara munasharah untuk kasus Bosnia sampai terkumpul dana sebesar US$ 4 juta, tetapi dilarang pemerintah. Akhirnya kasus itu menjadi berita besar lagi, karena dibela oleh lembaga profesi kedokteran, keperawatan, pengacara dan sebagainya. Kasus itu dibawa ke pengadilan dan akhirnya dinyatakan menang, walaupun dananya terpaksa dibagi dua (fifty-fifty) untuk lembaga pemerintah dan lembaga dakwah.
Jika ada bencana alam, gempa bumi, kebakaran dan sebagainya, aktivis selalu terdepan bersama masyarakat menyantuni korban. Itu semua adalah hasil dakwah thullabi yang dilanjutkan dakwah profesi. Yang lebih penting lagi di mihwar muassasi ini, tanpa pengembangan profesi akan sulit, karena kita membutuhkan para ahli dalam bidangnya yang bisa menjawab dan menjelaskan tantangan zaman melalui kacamata Islam. Konsep-konsep Islam harus dirumuskan dan dilaksanakan sebagai solusi bagi persoalan bangsa ini. Semuanya itu mengharuskan kita, mau tidak mau, untuk terjun dalam lembaga profesi.

Kategori:Dunia Islam Tag:

Muhasabah

26 Maret 2009 1 komentar

Muhasabah

Sahabatku sekalian
Kita adalah manusia yang diamanahkan Allah untuk hidup di dunia
Kita adalah orang yang terpercaya
Dipercaya sebagai makhluk yang paling mulia dari makhlukNya yang lain.
Sahabatku sekalian
Pernahkah kita berfikir sejenak, untuk apakah kehidupan kita ini
Kenapa kita hidup?
Kenapa hidup itu terbatas?
Kenapa ada batas yang namanya waktu?
Kenapa ada akhir yang namanya kematian?
Berbahagialah kita yang diberi nikmat hidup ini wahai sahabatku
Kita telah diberikan waktu untuk membuat hidup ini bermakna
Untuk menjadikan kita mengenal dan menambah wawasan
Untuk menegakkan punggung teman kita, tetangga kita, saudara kita, sahabat kita.
Untuk bermanfaat bagi semua orang
Bersedihlah wahai sahabatku, bila kita menyia-nyiakan hidup dan waktu ini
Sesungguhnya, Demi Masa
Manusia Itu sebenarnya MERUGI
Merugi karena tidak menggunakan waktu yang diamanahkan Allah kepadanya
Merugi karena tidak memanfaatkan ilmu yang diberikan Allah padanya
Nikmat yang paling bisa kita rasakan setelah iman adalah nikmat waktu dan ilmu
Janganlah sia-siakan nikmat tersebut wahai sahabatku
Jangan pernah mencoba menjadi orang yang merugi
Bacalah, dengan menyebut nama tuhanmu yang maha mencipta
Bacalah untuk mendapatkan ilmu
Bacalah untuk memperluas wawasan
Bacalah untuk menyelamatkan sahabat dari kerugian di dunia dan di Akhirat yang kekal
Orang yang beruntung adalah orang yang merasakan dekatnya kematian
Dalam artian, orang yang beruntung adalah yang menghitung waktu yang berlalu
Orang yang beruntung adalah yang menghitung, apakah dirinya lebih baik di hari ini dari hari kemarin
Orang yang beruntung adalah yang keberadaannya menjadi nasihat bagi orang lain, yang keberadaanya dirindukan orang lain, yang keberadaanya membuat orang lain menjadi ada, yang dengan keberadaanya orang lain ikut merasakan keberadaan diri mereka, yang dengan keberadaanya memperbaiki dunia
Orang yang beruntung adalah orang yang sabar, membuat orang menjadi sabar, membuat orang memiliki semangat hidup sehingga mereka sabar mengarungi kehidupan, yang bila orang lain melihat maka orang itu akan menjadi orang yang sabar
Sahabatku, sangat merugi bila apa yang kita lakukan tidak kita tahu tujuannya
Sangat merugi bila kita tidak memanfaatkan kesempatan yang diberikan Allah berupa waktu untuk meningkatkan kapasitas diri dan menjadi yang terbaik di hadapannya
Sangat merugi, bila dari umur yang didapatkan, kita hanya merasa menggunakannya untuk hal yang sia-sia.
Sahabatku, umur kita yang terbatas ini, sebenarnya merupakan pemacu bagi kita untuk memanfaatkan waktu kita sebaik mungkin.
Nabi hanya memiliki waktu 63 tahun.
Namun dari 63 tahun tersebut terdapat sauri tauladan yang terbaik
Dari 63 tahun tersebut tiada kesia-siaan.
Sahabatku, bila kita diberikan umur yang sama, sekarang berapakah umur kita,
Berapa banyak yang kita gunakan untuk membuat diri kita berkembang dan menjadi lebih baik
Berapa banyak yang kita gunakan untuk menyelami ayat-ayatNya baik yang Kauniyah maupun yang Qouliyyah.
Setiap detik begitu berharga sahabatku,
Setiap detik akan dimintai pertanggung jawabannya
Setiap detik akan menjadi pertanyaan yang membutuhkan argumentasi
Setiap detik bisa menyelamatkan, ataupun menjerumuskan.
Apa yang kita lakukan disini, saat ini
Mampukah kita mempertanggung jawabkannya nanti di Majelis Allah
Bisakah kita memberikan kejelasan untuk apa kita melakukannya.
Sentuhan sekecil apapun akan dimintai pertanggung jawabannya
Waktu sesedikit apapun akan dimintai pertanggung jawabannya
Kegiatan macam apapun akan dimintai pertanggung jawabannya
Mulailah untuk menentukan tujuan hidup wahai sahabatku, tujuan yang lurus
Karena dengan tujuan hidup, maka kita akan bisa mempertanggung jawabkan semuanya
Karena dengan tujuan hidup, maka kita akan bisa bebas dari keraguan
Karena dengan tujuan hidup, maka kita akan menjadi orang yang bahagia.
Berlalu dengan waktu bukan pilihan
Berlalu dengan tanpa berfikir bukanlah pilihan
Berlalu tanpa tujuan adalah kebodohan
Perhatikanlah air yang mengalir, yang dijadikan orang sebagai panduan untuk mengikuti arus yang ada tanpa harus berfikir.
Bukankah airpun memiliki tujuan, yaitu laut.
Kalau air tidak memiliki tujuan maka air itu diam, tidak mengalir.
Kalau orang tidak memiliki tujuan maka keberadaanya sama dengan ketiadaanya
Kalau orang tidak mempu menentukan arahan dan arusnya, maka niscaya dia tidak akan bisa menolong orang lain, tidak akan bisa bermanfaat bagi orang lain, tidak akan bisa memberi pada orang lain.
Belajarlah dari lingkungan, Iqro dari segala hal.
Dari teman yang berprestasi
Dari teman yang bekerja keras
Dari teman yang tidak mudah menyerah
Dari teman yang diam
Dari teman yang kreatif
Dari teman yang tegas
Dan kita akan menjadi orang yang akan dipelajari orang lain dan bermanfaat bagi orang lain.
Ingatlah Waktu dan Ilmu

Kategori:Dunia Islam Tag:

Keteladanan Murabbi

Keteladanan Murabbi
Oleh: Tim dakwatuna.com

dakwatuna.com – Pernahkah Anda mengalami suatu saat ketika Anda membuka mushaf dan Anda mulai membaca Al-Qur’an kemudian anak-anak Anda datang mendekati Anda sambil membawa buku Iqra’nya lalu mereka melakukan hal yang sama seperti apa yang tengah anda lakukan? Pernahkah Anda mendapatkan mutarabbi (objek dakwah/peserta didik/murid) Anda mengerjakan shaum (puasa) sunnah padahal Anda secara eksplisit tidah pernah menyuruhnya? Hal tersebut dilakukan oleh mutarabbi Anda hanya karena ia mendapatkan Anda juga melakukan shaum sunnah pada hari-hari sebelumnya. Pernahkah Anda mengalami khadimat Anda perlahan-lahan menyesuaikan diri dan penampilannya di tengah-tengah keluarga Anda, mulai terbiaasa mengenakan gaun panjang, memakai kerudung walau pada awalnya cuma nempel di atas kepala, tapi toh lama kelamaan ia menjadi terbiasa berjilbab baik ketika ia bekerja di dalam rumah apalagi di luar rumah? Padahal isteri Anda belum pernah berkata kepadanya bahwa memakai jilbab itu wajib, apalagi memperdengarkannya ayat Al-Qur’an yang berkenaan dengan kewajiban menutup aurat baik dalam surat An-Nur maupun Al-Ahzab.
Itulah buah dari keteladanan. Ketealadanan adalah cara berdakwah yang paling hemat karena tidak menguras enerji dengan mengobral kata-kata. Bahkan bahasa keteladanaan jauh lebih fasih dari bahasa perintah dan larangan sebagaimaana pepatah mengatakan: “Lisaanul hal afshahu min lisaaanil maqaaal”, bahasa kerja lebih fasih dari bahasa kata-kata. Dalam ungkapan lain keteladanan ibarat tonggak, dimana bayangan akan mengikuti secara alamiah sesuai dengan keaadaan tonggak tersebut, lurusnya, bengkoknya, miringnya, tegaknya. Benarlah pepatah ini: “Kaifa yastaqqimudzdzhillu wal ‘uudu a’waj”, bagaimana bayangan akan lurus bila tonggaknya bengkok.
Oleh karena itu, penting bagi para murabbi (dai/pendidik/guru/orang tua) untuk berusaha semaksimal mungkin menjadi figur murabbi teladan agar keteladanaannya memberi keberkahan bagi perkembangan dakwah dan peningkatan kualitas maupun kuantitas para mutarabbi yang mereka bina. Karena itu para murabbi pun perlu berinteraksi dengan tokoh-tokoh yang tercatat sejarah sebagai murabbi teladan, setidaknya melalui suratun hayawiyyah (gambaran kehidupan mereka), khusunya dalam melakukan aktivitas pentarbiyahan (mendidik mutarabbi).
Perhatikanlah kehidupan Murabbi hadzihil ummah, Rasulullah saw. Telusuri keteladanan figur murabbi pada diri sahaabatnya, para tabi’in, dan ulama salaafussalih. Aina nahnu minhum? Kita sungguh tidak ada apa-apanya dibanding mereka. Bahkan rasanya mustahil bisa sama dengan mereka. Itulah satu perasaan yang akan terlintas di benak kita ketika mengetahui keteladaanaan mereka sebagai murabbi. Tetapi kita dinasihati oleh satu pepatah: tasyabbahu in lam takuunuu mislahum, Innattasyabbuha bil kiraami falaahun, teladanilah meski tidak sama persis dengan mereka, sesungguhnya meneladanani orang-orang mulia adalah satu keberuntungan.
Keteladanan Rasulullah saw.
Sebagai murabbi Rasulullah saw. selalu melakukan pendekatan komunikasi sebagaimana yang direkomendasikan Al-Qur’anm yaitu qaulan layyinan (Thaha: 44), qaulan maysuran (Al-Isra’: 28), qaulan ma’rufan (As-Sajdah: 32), qaulan balighan (An-Nisa’: 63), qaulan sadidan (An-Nisa’: 9), dan qaulan kariman (Al-Ahzab: 31).
Sebagai murabbi, Rasulullah saw. tidak pernah memojokkan mutarabbi dengan kata-kata, apalagi hal itu dilakukan di hadapan orang lain. Diriwayatkan oleh Abi Humaid Abdirrahman bin Sa’ad As-Sa’idy r.a., ia berkata, “Nabi saw. telah mengutus seseorang yang bernama Ibnu Lutbiyyah sebagai amil zakat. Setelah selesai dari tugasnya lalu ia menghadap Raasulullah saw. seraya berkata, ‘Ini hasil dari tugas saya, saya serahkan kepadamu. Dan yang ini hadiah pemberian orang untuk saya.” Lalu Rasulullah saw. segera naik ke atas mimbar. Setelah menyampaikan puja dan puji kehadirat Allah swt., beliau berkhutbah seraya berkata, “Sesungguhnya aku megutus seseorang di antara kalian sebagai amil zakat sebagaimaana yang telah diperintahkan oleh Allah swt. kepadaku, lalu ia datang dan berkata: ‘Ini untuk engkau dan yang ini hadiah untukku. Jika orang itu benar, mengapa dia tidak duduk saja di rumah bapak atau Ibunya sehingga hadiah tersebut datang kepadanya. Demi Allah, tidaklah mengambil seseorang sesuatu yang bukan haknya melainkan kelak dia bertemu dengan Allah swt. membawa barang yang bukan menjadi haknya.” Lalu Rasulullah saw. mengangkat kedua belah tangannya hingga tampak ketiaknya seraya berkata, “Ya Allah, telah aku sampaikan. Ya Allah, telah aku sampaikan. Ya Allah, telah aku sampaikan. ” (Bukhari dan Muslim)
Rasulullah juga tidak pernah menjaga jarak dengan mutarabbinya. Sehingga tidak terjadi kesenjangan psikologis antara mutarabbi dengan murabbi. Hal ini dapat dilihat dari dialog lepas antara Jabir bin Abdillah dengan Rasulullah saw. “Aku pernah keluar bersama Rasulullah saw. pada peperangan Dzatirriqa’. Aku mengendarai seekor onta yang lamban jalannya sehingga aku tertinggal jauh dari Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw. menemuiku seraya berkata, “Kenapa engkau, hai Jabir? ” “Ontaku, ya Rasulallah, jalannya lamban sekali,” balasku. Kemudian Rasulullah berkata lagi, “Berikan kepadaku tongkat yang ada di tanganmu atau berikan aku sepotong kayu.” Aku berikan kepadanya dan beliau pun memukulkan kayu tersebut secara perlahan ke onta saya. Lalu beliau menyuruhku menaiki onta itu. Demi Allah, tiba-tiba ontaku berjalan dengan sangat cepat.
Kemudian obrolan berlanjut. Rasulullah saw. bertanya kepadaku, “Hai Jabir, apakah engkau sudah kawin?” “Sudah, ya Rasulallah,” jawabku. “Dengan janda atau gadis?” tanya beliau lagi. “Dengan janda, ya Rasul,” tegasku. “Kenapa tidak dengan gadis saja sehingga engkau dapat bersenang-senang dengannya dan ia dapat bersenang-senang denganmu?” balas Rasulullah saw. dengan nada bertanya. Lalu aku menjelaskan, “Ya Rasulullah, sesungguhnya ayahku meninggal pada Perang Uhud dan meninggalkanku saudara perempuan sebanyak tujuh orang. Maka dari itu aku menikahi seorang wanita yang sekaligus dapat menjadi pengasuh dan pembimbing mereka.” Kemudian Rasulullah berkata, “Engkau benar, insya Allah.”
Keteladanaan Para Sahabat r.a.
Di antara para sahabat yang paling menonjol keteladanannya adalah Abu bakar As-Shiddiq r.a. Bukan hanya karena ia adalah satu-satunya sahabat yang mendapat gelar as-sihiddiq dan juga bukan hanya karena satu-satunya sahabat yang menemani Rasulullah saw. dalam perjalanaan hijrah ke Madinah. Tetapi lebih dari itu, karena Abu Bakar layak disebut sebagai murabbi hadzihil ummah sepeninggalnya Rasulullah saw. Beliaulah yang memandu akidah dan fikrah para sahabat yang lainnya ketika mereka masih belum legowo menerima berita wafatnya Rasulullah saw., bahkan termasuk Umar bin khattab r.a. Pada saat itulah Abu bakar memberikan taujih tarbawy dengan membacakan firman Allah swt. dalam surat Ali Imran ayat 144, seraya menambahkan penjalasan dengan kata-kata hikmahnya, “Man kaana ya’budu muhammadan fainna muhammad qod maata, wa man kaana ya’budullaha fainnallaha hayyun laa yamuutu, barangsiapa yang menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah tiada; tetapi barangsiapa yang menyembah Allah swt., sesungguhnya Allah Hidup dan tidak akan mati.” Itulah keteladanan Abu Bakar dalan menyemai benih-benih tarbiyah, khusunya tarbiyah aqidiyah.
Ketika dua pertiga Jazirah Arab ditimpa gerakan pemurtadan (harakatul irtidad), dalam bentuk pembangkangan tidak mau membayar kewajiban zakat, lagi-lagi Abu bakar tampil sebagai pelopor. Dengan ketegasan sebagai murabbi, Abu Bakar menegakkan amar ma’ruf nahi munkar dengan memerangi mereka. Banyak para sahabat, termasuk Umar bin Khattab, masih beranggapan bahwa bukan itu jalan keluar untuk menghentikan gelombang kemurtadan. Abu Bakar langsung memberikan pelajaran kepada para sahabat khususnya Umar dengan kalimat, “Hatta anta, ya Umar, ajabbaarun fil jahiliyah hhawwarun fil Islam? Wallaahi, laa yanqushuddinu wa anaa hayyun, lau mana’uuni ‘uqqaalu ba’iirin yuadduunahi ila Rasuulillah lahaarabtuhu hatta tansalifa saalifaty, sampai engaku juga, Ya Umar. Apakaah engkau hanya tampak perkasa pada masa jahiliyah kemudian jadi ragu pada masa Islam? Demi Allah, tidak akan berkurang agama ini (Islam) sedikitpun selama aku masih hidup, walaupun mereka tidak memberikan hanya seutas tali onta yang harus diberikan kepada Rasulullah, maka tetap akan ku perangi mereka sampaai urat leherku terputus.”
Bahkan keteladan Abu Bakar sebagai murabbi bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga langsung dibarengi dengan sikap dan tindakan kongkret agar menjadi contoh bagi para sahabat yang lain. Misalnya pada saat sebagian besar para sahabat (kibaarus shahabah) keberataan dengan diangkatnya Usamah Bin Zaid, padahal hal itu telah menjadi ketetapan komando Rasulullah saw. sebelum wafatnya. Abu Bakar berazam untuk tidak membatalkan apa yang telah ditetapkan Rasulullah saw. seraya mengiringi pelepasan ekspedisi Usamah dengan menuntun kudanya sampai perbatasan. Sejak awal Usamah merasa tidak enak karena Abu Bakar berjalan kaki sementara ia berada di atas kudanya. Lalu Usamah menawarkaan agar ia turun, Abu Bakar saja yang naik kuda. Abu Bakar berkata, “Wallahi maa rakibtu wa maa nazalta, wa maa lialaa ughabbira qadami fi sabilillaah, Demi Allah, aku tidak mau naik dan engkau juga tidaak perlu turun. Biarkanlah kakiku bersimbah debu di jalan Allah.”
Keteladanan Ulama Salafusshalih
Salah satu di antara mereka adalah Atho bin Abi Rabaah rahimahullah. Beliau memimpin halaaqah (kelompok pengajian) besar di Masjidil Haram semasa Sulaiman bin Abdil Malik menjadi Khalifah. Khalifah sering menghadiri halaqah Atho bin Abi Rabah. Padahal Atho adalah seorang habsyi (negro asal Ethiopia) yang pernah menjadi budak seorang wanita penduduk Kota Mekkah. Atho dimerdekakan karena kepandaiannya dalam mendalami ajaran Islam.
Keteladanan Atho bin Abi Rabaah sebagai murabbi adalah kelembutannya dan ketajaaman nasihatnya serta pandangan dan perhatianya yang penuh kasih sayang. Itu seperti yang dikisahkan Muhammad bin Suqah, salah seorang ulama Kufah, bahwa suatu ketika Atho bin Abi Rabaah menasihatinya, “Wahai anak saudaraku, sesungguhnya orang-orang sebelum kita tidak menyukai pembicaraan yang berlebihan.” “Lalu apa batasannnya pembicaran yang berlebihan?” tanyaku. Beliau melanjutkan nasihatnya, “Mereka mengkategorikan pembicaraan berlebih bila dilakukan selain dari Al-Qur’an yang dibaca dan difahami; atau hadits Rasulullah yang diriwayatkan; atau berkenaan dengan amar ma’ruf nahi munkar; atau pembicaraan tentang satu hajat, kepentingan dan persoalan maisyah.” Kemudian beliau mengarahkan pandangannya kepadaku seraya berkata, “Atunkruuna (Inna ‘alaikum laahaafidzhiin, kiraaman kaatibiin) (Al-infithar: 10-11), wa anna ma’a kullin (‘minkum malakaini Anil yamiini wa ‘anisshimaali Qa’iid, maa yalfidzhu min qaulin illaa laadaaihi raqiibun ‘atiid) (Qaf: 17-18), Amaa yatahyii aahaduna lau nusyirat alaihi shahiifatuhullatii amlaa’aahaa shdra naahaarihi, faawaajada aktsara maa fiihaa laaisa min amri diinihi walaa amri dunyaahu.”
Kapabilitas takwiniyah (kemampuan membentuk pribadi mutarabbi) Atha bin Abi Rabaah dalam mentarbiyah bukan hanya kepada kalangan pembesar dan terpelajar, tapi sampai seorang tukang cukur. Ini sebagaimana dikisahkan oleh Imam Abu hanifah. “Aku melakukan kesalahan dalam lima hal tentang manasik haji, lalu aku diajarkan oleh seorang tukang cukur, yaitu ketika aku ingin selesai dari ihram. Aku mendatangi salah seorang tukang cukur, lalu aku berkata kepadaanya, berapa harganya? “Semoga Allah menunjukimu. Ibadah tidak mensyaratkan soal harga. Duduk sajalah dulu. Soal harga gampang,” jawab tukang cukur. Waktu itu aku duduk tidak menghadap kiblat, lantas ia mengarahkan dudukku hingga menghadap kiblat. Kemudian menunjukkan bagian kiri kepalaku, lalu ia memutarnya sehingga mulai mencukur kepalaku dari sebelah kanan.
Ketika aku dicukur, ia melihatku diam saja. Lalu ia menegurku, “Kenapa koq diam saja? Ayo perbanyaklah takbir.” Maka aku pun bertakbir. Setelah selesai, aku hendak langsung pergi. Lalu ia berkata, “Mau kemana kamu?” “Aku mau ke kendaraanku,” jawabku. Tukang cukur itu mencegahku seraya berkata, “Shalat dulu dua rakaat, baru kau boleh pergi kemana kau suka.” Aku berkata dalam hati, tidak mungkin tukang cukur bisa seperti ini kalau bukan dia orang alim. Lalu aku berkata kepadanya, “Dari mana engkau dapati mengenai beberapa manasik yang kau perintahkan kepadaku?” “Demi Allah, aku melihat Atho bin Abi Rabaah mempratekkan hal itu, lalu aku mengikutinya, dan aku arahkan orang banyak untuk belajar kepadanya,” jawab tukang cukur alim tersebut.
Di antara kebiasaan baik ulama salafusshalih dan keteladanan mereka dalam mentarbiyah adalah ketika memberikan materi mereka tidak terkesan bersikap santai atau memberikannya sambil duduk bersandar. Tetapi mereka menunjukan sikap yang sigap dan penuh semangat sebagaimana telah menjadi sikap umum di kalangan mereka ketika menyampaikan materi. Hal itu terungkap dari pernyataan salah seorang di antara mereka, “Laa yanbaghi lanaa idzaa dzukira fiinasshalihuna jalasnaa wa nahnu mustaniduuna, tidaklah pantas bagi kita ketika disebutkan di tengah-tengah kita orang-orang yang shaleh, lalu kita duduk sambil bersandar.”
Adalah Said Ibnul Musayyib rahimahullah (juga seoarang murabbi yang keteladanannya patut dicontoh oleh para murabbi). Ia memimpin halaqah yang cukup besar di Masjid Nabawi. Si samping beliau, juga terdapat halaqah ‘Urwah bin Zubair dan Abdullah bin ‘Utbah rahimahumallah. Said Ibnul Musayyib mempunyai seorang mutarabbi, namanya Abu Wada’ah. Suatu ketika Abu Wada’ah beberapa kali tidak hadir. Tentu saja Said bin Musayyib merasa kehilangan mutarabbinya itu. Beliau khawatir kalau-kalau ketidakhadirannya lantaran sakit atau ada masalah yang menimpanya. Lalu beliau bertanya kepada murid-muridnya yang lainnya. Namun tidak ada yang tahu. Beberapa hari kemudian tiba-tiba Abu Wada’ah datang kembali sebagaimana biasa. Maka sang murabbi teladan Said bin Musayyib segera menyambut kedatangannya dengan sapaan yang penuh perhatian. “Kemana saja engkau, ya Aba Wada’ah?” “Isteriku meninggal dunia sehingga aku sibuk mengurusinya,” jawab Abu wada’ah. “Mengapa tidak beritahu kami sehingga kami bisa menemanimu dan mengantarkan jenazah isterimu serta membantu segala keperluanmu?” tanya Said kembali. “Jazaakallahu khairan,” jawab Abu Wada’ah yang terkesan memang sengaja tidak memberi tahu karena khwatir merepotkan murabbinya.
Tidak lama kemudian Said bin Musayyib menghampiri Abu Wada’ah dan membisikinya, “Apakah engkau belum terpikir untuk mencari isteri yang baru, ya Aba Wada’ah?” “Yarhamukallah, siapa orangnya yang mau mengawini anak perempunnya dengan pemuda macamku yang sejak kecil yatim, fakir, dan hingga sekarang ini aku hanya memiliki dua sampai tiga dirham,” tandas Abu Wada’ah yang tampaknya ingin bersikap realistis terhadap keadaan dirinya. “Aku yang akan mengawinimu dengan anak perempuanku,” tegas Said. Dengan terbata-bata Abu Wada’ah berucap, ” Eng… engkau akan mengawiniku dengan anak perempuanmu padahal engkau tahu sendiri bagaimana keadaanku.” “Ya, kenapa tidak? Karena kami jika sudah kedataangan seseorang yang kami ridha terhadap agamanya dan akhlaknya, maka kami kawinkan orang itu. Dan engkau termasuk orang yang kami ridhai,” jawab Said meyakinkan mutarabbinya.
Lalu dipanggillah orang-orang yang ada di halaqah tersebut untuk menyaksikan akad nikah dengan mahar sebanyak dua dirham. Abu Wada’ah benar-benar terkejut tak tahu harus berkata apa. Antara kaget daan girang ia pulang menuju rumahnya. Sampai-sampai ia lupa kalau hari itu ia sedang shaum karena di tengah perjalanan ia terus berpikir dari mana ia akan menafkahkan isterinya, atau berhutang dengan siapa? Tak terasa ia sudah sampai di rumah dan adzan maghrib pun tiba. Lalu ia berbuka dengan sepotong roti. Baru saja menikmati rotinya, tiba-tiba ada suara yang mengetuk pintu. “Siapa yang mengetuk pintu,” tanyanya dari dalam rumah. “Said,” jawab suara di balik pintu yang sepertinya ia mengenalinya.
Setelah dibukanya tiba-tiba sang murabbi sudah ada di hadapannya. Abu Wada’ah mengira telah terjadi “sesuatu” dengan pernikahannya, lalu ia langsung menyapa sang murabbi seraya berkata, “Ya Aba Muhammad, mengapa tidak engkau utus seseorang memanggilku sehingga aku yang datang menemuimu.” “Tidak. Engkau lebih berhak aku datangi hari ini.” Setelah dipersilakan masuk, Said langsung mengutarakan maksud kedatangannya. “Sesungguhnya anak perempuanku telah sah menjadi isterimu sesuai dengan syari’at Allah swt. sejak tadi pagi. Dan aku tahu tidak ada seorang pun yang menemanimu, menghiburmu, dan melipur kesedihanmu, maka aku tidak ingin engaku bermalam pada hari ini di suatu tempat sedang isterimu masih berada di tempat lain. Sekarang aku datang dengan anak perempuanku ke rumahmu.”
Lalu Said menoleh ke arah puterinya seraya berkata, “Masuklah engkau ke rumah suamimu, wahai Puteriku, dengan menyebut asma Allah dan memohon barakah-Nya.” Masuklah anak perempuan Said dan ketika melangkahkan kakinya nyaris keserimpet (terinjak gaunnya) hingga hampir jatuh karena saking malunya. “Sedang aku juga cuma berdiri di hadapanya kaget campur bingung tak tahu harus berkata apa,” kata Abu Wada’ah mengenang kejadian itu. Tapi kemudian ia cepat-cepat mendahului isterinya ke dalam ruangan, lalu ia jauhkan cahaya lampu dari sepotong roti yang memang tinggal segitu-gitunya supaya tidak terlihat oleh isterinya. Baru setelah itu ia keluar rumah memanggil ibunya untuk menemui menantu barunya.
Itulah keteladanan Said bin Musayyib yang menolak pinangan Abdul Malik bin Marwan, Khalifah Bani Umayyah yang ingin meminang putrinya. Ia malah segera menikahkan puterinya dengan Abu Wada’ah, mutarabbinya yang sederhana dan tidak diragukan lagi kualitas tarbiyahnya.
Lain lagi dengan kisah Imam Abu Hanifah. Ia dikenal dengan nama Nu’man bin Tsabit rahimahullah. Beliau seorang murabbi yang wajahnya selalu enak dipandang. Wajahnya berseri-seri. Pengtahuannya dalam. Manis tutur katanya, rapih penampilannya, dan selalu memakai wangi-wangian. Jika beliau datang ke majelis taklimnya, semua orang yang ada di situ sudah mengetahuinya sebelum mereka melihatnya lantaran semerbak wewangian yang dipakainya.
Di samping cerdas, alim, faqih, beliau juga dikenal sebagai murabbi yang dermawan. Maklum, beliau seorang saudagar pakaian, kain, dan sutera. Beliau berdagang berkeliling dari kota satu ke kota lain di wilayah Irak.
Suatu ketika salah seorang muridnya datang ke tempat jualannya. Ia minta dicarikan baju, lalu beliau mencarinya sesuai dengan warna yang dimintanya. “Berapa harganya?” tanya sang murid. “Sedirham,” jawab Imam. “Satu dirham?” tanya sang murid heran. Itu sangat murah. “Ya, segitu.” “Yang benar nih….” kata muridnya lagi. “Aku tidak main-main. Aku beli baju ini dan yang serupa lagi dengannya seharga dua puluh dinar emas dan satu dirham perak. Yang satu aku sudah aku jual, sedang yang sisanya ini aku jual kepadamu dengan harga sedirham. Aku memang tidak mau mengambil untung terhadap murid-muridku.”
Suatu ketika Imam Abu Hanifah melihat salah seorang mutarabbinya berpakaian lusuh sehingga terkesan tidak enak dipandang. Setelah murid-murid yang lain keluar dari majelis, sehingga tidak ada seorangpun di dalam majelis itu selain Imam Abu Hanifah dengan mutarabbinya tersebut, beliau berkata kepadanya, “Angkatlah sajadah ini lalu ambil sesuatu yang ada di bawahnya.” Setelah diambilnya ternyata uang sebanyak seribu dirham. “Ambilah uang itu dan perbaikilah penampilanmu,” tegas Imam Abu Hanifah. Lalu kata orang itu, “Aku sudah cukup. Allah telah melimpahkan nikmatnya kepadaku. Aku tidak membutuhkan uang ini.” Dengan cerdasnya Imam Abu Hanifah menyanggah omongan mutarabbinya itu, “Jika memang benar-benar telah melimpahkan nikmatnya kepadamu, lalu mana bukti kenikmatan-Nya itu? Bukankah Rasulullah saw. bersabda, ‘Innallaha yuhibbu an yaraa aaatsara ni’matihi ‘ala ‘abdihi, sesungguhnya Allah swt. senang melihat bukti kenikmatan yang diberi-Nya terlihat pada hamba-Nya? Karena itu, sudah sepantasnya engkau memperbaiki keadaanmu agar engkau tidak membuat sedih saudaramu.”
Itulah beberapa keteladan ulama salafussalih dalam mentarbiyah para mutarabbinya. Wallahu ‘alamu bisshawaab.

Kategori:Dunia Islam Tag:

Islam itu Indah

Islam itu Indah
Oleh Febty Febriani
14 Jul 06 08:23 WIB
Kirim teman
Akhir Mei 2006

Mbak Fety, dah dapat kos di Bandung? Kapan rencananya ke Bandung, mbak. Ntar klo ke Bandung sms Asni yah, mbak. Nanti Asni temanin cari kos, begitulah kira-kira bunyi sms yang mampir di handphone saya pada suatu malam.
Dari Asni. Dia pernah menjadi bagian cerita hidup saya selama sebulan ketika saya masih berada di Yogya. Sms dari Asni malam itu adalah sebuah berkah untuk saya. Bagaimana tidak, Allah SWT menakdirkan saya bekerja di Bandung padahal saya tidak mempunyai saudara di Kota Kembang itu. Sayapun juga tidak mengenal Bandung.
Benarlah, dia menepati janjinya. Hari itu, bersama dengan temannya, dia menjemput saya di agen travel. Dia dan temannya pula yang menemani saya berjalan di terik matahari, keluar gang masuk gang, untuk mencari kos yang tepat buat saya. Mereka pula yang menemani saya membeli perlengkapan kos. Bahkan, Asni menawarkan saya menginap saja di kosnya karena dia takut saya kesepian di kos saya yang baru. Mereka memperlakukan saya layaknya saya adalah kakak mereka.
Saat menuju ke kosnya itu, saya baru mengetahui kalau perjalanan dari kosnya menuju ke tempat dia menjemput saya memakan waktu sekitar satu jam. Dia kos di Jatinangor sedangkan tempat agen travel yang membawa saya dari Jakarta menuju Bandung berada di sekitar kampus ITB. Terharu, hanya kata itu yang memenuhi ruang hati saya.
***
Awal Juni 2006
Kereta ekonomi jurusan Jakarta-Serpong yang berangkat dari stasiun Tanah Abang penuh sesak. Saya berdiri di salah satu pojok kereta. Di sekitar sayapun orang-orang dengan beraneka ragam tipe juga berdiri, mencari celah di antara sesama penumpang. Hari itu saya akan ke rumah teman saya, di Serpong. Ceritanya, saya mau menumpang menginap di kosnya, karena keesokan pagi saya mempunyai acara kantor di kantor saya yang baru di Serpong.
”Vi, Fety boleh numpang nginap yah? Masalahnya, hari pertama masuk kerja, Fety ada acara di kantor Serpong. Fety gak punya saudara di Serpong.”, tanya saya pada saat istirahat setelah makan malam, ketika kami masih mengikuti acara orientasi sesama pegawai baru di Depok.
”Ehm, bolehlah.”
”Tapi, saya tidak tahu kosnya Evi di Serpong di mana? dan ke Serpongnya naik apa?”, lanjut saya bertanya.
Tanpa saya meminta dua kali, muslimah yang duduk di hadapan saya itu langsung menerangkan jalur KA yang harus saya tumpangi menuju ke Serpong. Tak lupa pula, dia membuatkan denah menuju ke kosnya, plus, menjelaskan angkutan yang harus saya naiki dari KA Serpong menuju kosnya.
”Nanti, kalo Fety dah sampai di gang kos saya sms atau miscal aja. Ntar saya jemput.”, katanya menutup perbincangan kami malam itu.
Akhirnya, menjelang magrib, saya tiba di kosnya.
”Langsung aja masuk ke kamarnya Mbak Evi, Mbak. Kamarnya Mbak Evi di atas. Hari ini Mbak Evi pulangnya menjelang Isya,” sapa ramah ibu kos Evi pada saya.
Benarlah, menjelang Isya, Evi pulang. Rasa capek dan lelah masih tergambar di wajah ayunya.
”Fet, maaf yah di kamar sendirian. Baru pulang nih dari dinas ke Jakarta. Udah makan malam?udah minum? Kalau belum, kita beli makan yuk!”
Perasaan bersalah tergambar jelas di wajahnya. Tanpa melepas lelah sejenakpun, dia langsung mengajak saya keluar untuk beli makan malam. Dan dia mentraktir saya malam itu.
***
Awal Juni 2006, suatu malam di Bandung
Sebuah pesan masuk ke handphone saya. Dari Nanae, teman saya ketika masih kuliah di Yogya. Sekarang, dia bekerja di sebuah BUMN di kota Bandung.
“Nga, udah di Bandung? Besok kita ketemuan yah?” begitulah bunyi sms-nya malam itu. “Boleh, janjian di depan kampus ITB yah,” itulah jawaban dari saya untuknya.
Jadilah, sekitar jam sebelas siang esok harinya saya berjumpa dengan dia di depan kampus ITB.
”Mau ditemanin ke mana nih? Udah beli perlengkapan kos?” tanyanya setelah acara kangen-kangenan antara saya dan dia usai.
”Udah. Terserah deh mau ke mana,” saya tidak bisa menentukan pilihan karena saya baru menetap di Bandung sekitar satu minggu.
”Ok, deh. kalau gitu, kita jalan-jalan aja. Supaya kamu tahu jalan-jalan di kota Bandung,” katanya diiringi dengan senyuman manisnya.
”Eh, Nga, ntar kamu nginap di kosku aja yah,” pintanya.
”Boleh. Tapi, entar sore aku ditemanin pulang ke kos dulu yah untuk ambil baju ganti,” Dan diapun mengiyakan permintaan saya.
Akhirnya, hari itu, Nanae mengajak saya berkeliling Bandung dengan sepeda motornya. Malamnya, saya menginap di kosnya. Dan keesokan harinya, dia mengajak saya ke acara pengajian di daerah Gegerkalong. Menjelang Isya, Nanae mengantar saya pulang ke kos. Dua hari bersamanya, saya benar-benar diperlakukan seperti seorang tamu agung. Semuanya terungkap lewat jamuan makanan, cemilan, tempat tidur dan selimut yang diperuntukkannya untuk saya. Saya tahu, dia ingin saya merasa nyaman selama saya berada di kosnya
***
Pertengahan Juni 2006
”Fet, mau ditolongi ngomong ke Pak Atip tentang masalah uang itu?” tanya teh Ummi, rekan kerja saya di kantor.
”Boleh, teh. Fety malu. Nanti takut salah. Fety kan karyawan baru di sini”, jawab saya
Mendengar jawaban saya, saat itu juga, teh Ummi langsung menelepon Pak Atip dan menanyakan masalah saya ke beliau. Fety malu, Pak, begitulah canda muslimah itu di telepon. Dan selanjutnya, dengan lugas, dia menjelaskan ke Pak Atip mengapa dia membantu saya menanyakan hal itu.
Saya terdiam. Rasa syukur memenuhi segenap ruang hati saya. Pertolongannya siang itu telah membantu saya keluar dari masalah yang selama sekitar satu minggu ini hanya berputa-putar di kepala saya saja
***
Asni. Muslimah itu berasal dari Jakarta. Dia pernah kos di kos saya ketika saya masih Yogya. Hanya satu bulan. Waktu itu, dia memanfaatkan masa liburan kuliahnya dengan berpetualang ke Yogya.
Pertemanan dengan Evi terjadi karena saya dan dia berasal dari fakultas yang sama di suatu universitas ternama di Yogya. Namun, jurusan kita berbeda. Evi kuliah di jurusan kimia sedangkan saya kuliah di jurusan fisika. Dia dilahirkan dan dibesarkan di sebuah kota di Jawa Timur, Madiun. Pertemanan saya dan Evi terjadi karena kami mengambil mata kuliah yang sama di tingkat-tingkat awal saya kuliah.
Hari-hari bersama Nanae saya lalui ketika kami beraktivitas di organisasi kemahasiswaan yang sama ketika kami masih menyandang status mahasiswa. Purworejo, itulah kota tempat orangtuanya bertempat tinggal,
sampai dengan sekarang.
Begitu juga dengan teh Ummi. Saya baru mengenalnya. Dia adalah rekan kerja saya di kantor saya yang baru. Meja kami bersebelahan. Sayapun juga baru mengetahui, kalau muslimah ini berasal dari pulau yang sama dengan pulau kelahiran saya. Kita sama-sama perantauan di Bandung. Dia berasal dari Lampung sedangkan kota kelahiran saya adalah Bengkulu.
Sungguh, saya sangat terharu dengan cara keempat muslimah itu memperlakukan saya. Saya bukanlah saudara sekandung atau saudara sepupu mereka. Di antara kami tidak ada hubungan darah. Saya hanya teman mereka. Bukan teman karib. Hanya teman biasa.
Namun, saya yakin, hanya satu hal yang membuat Evi dan Nanae mau memperlakukan saya layaknya saudara kandung mereka. Hal itu pula yang menjadi alasan bagi Asni dan teh Ummi untuk tulus membantu saya ketika saya sedang berada dalam kesulitan. Islam, itulah jawabannya. Ah, sungguh indahnya ukhuwah dalam Islam. Bukankah antara sesama muslim itu layaknya suatu bangunan yang saling mengokohkan? Tidak mengenal batasan hubungan darah. Tidak mengenal batasan suku. Tidak mengenal batasan ras. Tidak mengenal batasan asal kota kelahiran. Tidak mengenal batasan golongan.
Rabbi, terima kasih Engkau telah mempertemukan hamba dengan saudari-saudari hamba dalam indahnya persaudaraan atas namaMu, hanya doa itu yang mampu terucap di hati saya.
Bandung, pertengahan Juli 2006