Beranda > Artikel > tekhnologi mobil udara

tekhnologi mobil udara

Mobil udara sangat ramah lingkungan, hemat energi dengan biaya produksi yang rendah

Mesin udara sangat ramah lingkungan dengan tenaga besar. Gas buangannya hanya berwujud embusan udara dingin -15 derajat Celsius. sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Prancis, Korea Selatan, dan India telah mengembangkan mesin udara sebagai proyek nasional. Dengan “bensin” 300 liter udara, rata-rata kendaraan ini dapat menempuh jarak hingga 200 kilometer dan meluncur dengan kecepatan maksimum sekitar 96,5 kilometer perjam. Para ahli rame-rame mengembangkan mobil berbahan bakar udara. Sangat ramah lingkungan dengan biaya produksi rendah. Dapat dikembangkan menjadi alat transportasi lainnya.

Apakah teknologi benar-benar membuat hidup manusia jadi mudah? Bisa iya, bisa juga tidak. Ambit contoh benda yang paling akrab dengan manusia, yaitu mobil. la membuat jarak dan lokasi menjadi tak berarti. Namun, ketika energi minyak bumi makin menipis yang membuat bensin makin langka dan harga akhirnya melambung tinggi, manusia pun mulai berpikir ulang. Mobil berbahan bakar bensin kelak bisa jadi dianggap tidak praktis.

Nah, para ilmuwan dan industriawan pun mulai berpikir ke masa depan itu. Mereka bersatu padu, terus berupaya menciptakan mobil masa depan. Yakni mobil dengan tenaga energi alternatif. Mulai yang bertenaga listrik, angin, hingga sinar matahari. Kini sejumlah ilmuwan mancanegara telah beralih pada sumber daya lama yang selama ini melimpah ruah. Apalagi kalau bukan kata ”udara”

Itulah salah satu yang sedang dijalankan ahli mesin Guy Negre (Prancis), Armando Regusci (Uruguay), Angelo Di Pietro (Australia), Chul­Seung Cho (Korea Selatan), hingga sekelompok ilmuwan yang tergabung dalam sebuah konsorsium yang disebut Kernelys yang bermarkas di Prancis.

Upaya membuat mobil menghirup udara ketimbang menenggak bensin sebenarnya dikembangkan sejak 1990-an. Teknisi Prancis, Guy Negre, boleh dibilang pelopor gerakan penciptaan mobil udara ini ketika ia mendirikan MDI (Moteur Development International), 1991. Ketika itu, MDI berhasil menciptakan mesin dengan pasokan energi ganda, yakni dengan udara bertekanan tinggi dan bensin.

Sejak itu, Negre terus menyempurnakan mesinnya hingga berhasil menciptakan mesin yang menggunakan udara sebagai bahan utama untuk bergerak. Rupanya, Negre tak sendiri. Dalam waktu hampir bersamaan, sejumlah ilmuwan lain mengembangkan prototipe mesin yang hampir serupa.

Umumnya, prinsip kerja mesin udara ini mengandalkan tangki udara bertekanan tinggi sebagai “bahan bakar” yang ditempatkan di bawah mobil. Sang udara lalu disalurkan untuk menggerakkan piston yang telah didesain secara khusus. Awalnya, udara dimampatkan pada tangki udara yang terbuat dari fiber-karbon hingga mencapai 3.000-4.000 psi (atau 200-300 bar).

Selanjutnya, udara mampat ini diinjeksikan ke sebuah kabin kecil. Namun sebelumnya, udara ini dialihkan dulu pada alat pemanas yang dapat diatur. Sesuai dengan hukum gas Boyle, volume udara dalam kabin akan mengembang, yang kemudian dapat dipakai untuk mendorong piston yang menggerakkan poros engkol. Tenaga itulah yang menggerakkan mobil.

Tangki di bawah mobil dapat memuat hingga sekitar 300 liter udara. Dengan pasokan “bahan bakar” sebesar ini, rata-rata mobil udara diperkirakan dapat menempuh jarak hingga 200 kilometer dan meluncur dengan kecepatan maksimum sekitar 96,5 kilometer per jam. Hasil buangan mesin udara ini tak seperti mesin bensin biasa (internal combustion engine). “Mesin biasa menghasilkan polutan, sedangkan mesin angin ini hanya mengem­buskan udara dingin (sekitar -15 derajat Celsius!). Hebat bukan!!!

Toh, hingga kini boleh dikata belum ada satupun prototipe mobil udara itu yang diproduksi secara massal. Tapi ini tak berarti proyek kendaraan ramah lingkungan ini isapan jempol belaka. Para ilmuwan mesin udara telah bekerja sama dengan industriawan untuk menjual karya mereka. Regusci misalnya, telah mendirikan RegusciAir, Pietro dengan perusahaan EngineAir (www.engineair.com.au/), dan Chul-Seung Cho bersama Energine (www.energine.com), begitu juga Guy Negre lewat MDI (www.theaircar.com).

Perusahaan yang disebut terakhir ini telah bekerja sama dengan Tata Motor asal India untuk memproduksi “The Air Car”. Jika tak ada aral melintang, setidaknya sebanyak 6.000 mobil anti­polusi itu akan berkeliaran di jalanan India mulai Agustus tahun depan.

Salah satu varian andalan Air Car adalah CityCAT, sebuah sedan perkotaan. MDI mengklaim, CityCAT mampu berlari hingga 110 kilometer per jam de­ngan jarak tempuh mencapai 160-320 kilometer, tergantung kondisi lalu lintas. CityCAT yang berkapasitas lima penumpang ini sangat irit ganti oli, hanya 1 liter untuk setiap 50.000 kilometer. Untuk sebuah produk berteknologi baru, harganya pun relatif tidak mahal, hanya US$ 12.700.

Kelompok Kernelys tak ketinggalan akan memproduksi K’Airmobiles, yang diluncurkan tahun depan. Kernelys menyebut mobil udara ciptaan mereka sebagai Vehicles with Pneumatic Propulsion. Kendaraan dengan propulsi udara ini tak hanya berwujud sedan, melainkan juga taksi sepeda yang dapat memuat hingga tiga penumpang.

Pietro dengan kelompok bisnisnya, EngineAir, tak hanya membuat mobil. Mereka juga mengembangkan bus udara, forklift, skuter, bahkan mesin kapal. Itu berkat piston putar (rotary piston) unik ciptaan Pietro. Piston inilah yang nantinya menghasilkan tenaga gerak. Mesin udara ini nanti bisa dikembangkan kapasitas dan tenaganya untuk berbagai keperluan.

Bagaimana jika tangki udara mulai menipis? Gampang saja, Tinggal mampir ke pom bensin yang ada fasilitas pengisian udaranya. Hanya butuh empat hingga lima menit. Untuk mengisi udara, biayanya cukup 2 dolar untuk tangki kapasitas 340 liter dengan tekanan udara mencapai 4.350 psi.

Jika tak ingin repot mampir ke pom, pengguna dapat menyedot udara dari fasilitas kompresor built in yang ada pada CityCAT. Tinggal colokkan steker mobil ke tempat listrik, kompresor pun akan mengisi udara hingga penuh kira-kira empat jam lamanya.

Memang benar seperti mesin energi alternatif lainnya, mesin angin ini masih memerlukan bantuan listrik atau bensin. Untuk jenis prototipe tertentu, jika mobil udara ini berlari di bawah 60 kilometer per jam, ia masih menggunakan tenaga udara. Tetapi, di atas kecepatan itu, mobil akan memakai bensin atau solar. Perubahan sumber energi ini diatur secara otomatis oleh suatu alat elektronik.

Karena itulah, banyak ahli mesin menganggap perkembangan mesin udara belum optimal. Menurut kalkulasi mereka, “bensin udara” belum sepenuhnya efisien sehingga dapat menggantikan “bensin minyak bumi”. Pasokan sebanyak 300 liter udara dengan tekanan mencapai 3.000 psi hanya menghasilkan tenaga sebesar 1,4 liter bensin.

Selain itu, muncul kritik bahwa tak sepenuhnya benar mobil udara sungguh­sungguh bebas polutan. Mobil udara dianggap hanya mengalihkan polutan gas buangannya dari wujud polusi udara ke bentuk lain. Misalnya konsumsinya akan listrik untuk menyedot udara dan bensin untuk menyuplai listrik. Walhasil, mesin udara dianggap lebih banyak menelan energi ketimbang menghasilkannya.

Walau begitu, kritik ini bisa dianggap nyinyir. Tentu tak ada mesin yang mampu murni lepas dari pasokan satu atau dua sumber energi. ”Itu fakta termodinamika yang tak dapat kita hindari. Tetapi hukum itu berlaku untuk semua mesin, bukan

Kategori:Artikel Tag:
  1. 4 Juli 2014 pukul 3:06 AM

    I have read so many posts on the topic of the blogger lovers however this piece of writing is actually a pleasant piece of writing, keep it up.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: